LOCUS OF
CONTROL
Pengertian
Konsep mengenai Locus of control (pusat
kendali) sejak awal dipelopori oleh
Rotter. Rotter merupakan seorang ahli dalam teori pembelajaran sosial. Konsep dasarnya di kaji
dalam teori pembelajaran sosial (learning
social). Dalam
penjelasannya dikemukakan bahwa
seseorang dapat mengembangkan harapan kemampuan yang dimilikinya untuk
mengendalikan kejadian-kejadian dalam hidupnya. Menurut
pendapatnya yang dikutip oleh Brownell (1981), bahwasanya Locus
of control dapat
didefinisikan
sebagai tingkat dimana seseorang mau menerima tanggung jawab secara personal
terhadap apa yang mungkin akan terbentuk pada dirinya.
Pendapat lainnya
dikemukakan oleh Kreitner dan Kinicki (2005), yang mengartikan Locus of control sebagai gambaran dari
variabel kepribadian (personility)
yang diartikan sebagai keyakinan individu untuk mampu tidak seseorang
mengontrol nasib dirinya (destiny)
sendiri.
Sedangkan Robbins
dan Judge (2007) mengartikan lokus kendali sebagai tingkatan dimana seorang
individu yakin bahwa dirinya adalah penentu nasibnya sendiri. Locus of control (lokus kendali) adalah kendali individu
atas pekerjaannya dan kepercayaannya akan keberhasilan dirinya. Locus of control sangat terkait dengan
kepercayaan individu akan suatu peristiwa, suatu nasib dan keberuntungan maupun
takdir yang timbul pada dirinya, baik karena faktor internal ataupun faktor
eksternal.
Pendapat yang
hampir sama dikemukakan oleh Munir dan Sajid (2010) dimana pendapatnya mengutip
pendapat dari Spector
mengemukakan pengertian Locus of control
sebagai cerminan dari keinginan pribadi seseorang untuk meyakini bahwa dirinya
akan mengendalikan perkara yang bakal terjadi dalam hidupnya atau kendali dari
peristiwa yang terbentuk dalam hidupnya berasal dari luar dirinya (eksternal).
Sedangkan Kutanis,
Mesci dan Ovdur (2011) mengutip pendapat dari Erdogan menyatakan bahwa lokus
kendali mencakup gagasan bahwa individu sepanjang hidup mereka, menganalisis
peristiwa dari hasil perilaku mereka atau mereka mempercayai bahwa setiap
peristiwa tersebut adalah hasil dari kebetulan, nasib atau mungkin kekuatan
dari luar kendali mereka.
April, Dharani & Peters (2012)
mengutip pendapat Lee-Kelley menyatakan Locus
of control merpakan gambaran dimensi dari dua sisi berlawanan. Dimensi
mencerminkan kepercayaan seseorang bahwa yang bakal terjadi pada mereka
kesemuanya akan berasal dalam kendali maupun dari luar kendali mereka. Oleh
Irwandi (2002:83) menyatakan bahwa beberapa individu akan meyakini bahwa mereka
akan mampu mengendalikan apa yang bakal terjadi pada diri mereka, sedangkan di
lain pihak juga akan meyakini bahwa semua yang terjadi pada dirinya mampu
dikendalikan dari kekuatan luar misalnya kemujuran dan peluang.
Duffy & Atwarer (2005)
mengemukakan definisi Locus of control
yaitu sebuah keyakinan pribadi dalam mengendalikan peristiwa yang akan terjadi
baik itu sifanya bersumber dari diri
sendiri maupun bersumber dari
luar. Levenson (1981) mengartikan Locus
of control sebagai keyakinan dari individu atas sumber penyebab akan
peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupannya. Seseorang bisa memiliki
keyakinan jika memiliki kemampuan untuk mengatur kehidupannya, atau kemungkinan
orang lainlah yang akan mengatur kehidupannya, bahkan dapat juga berkeyakinan
bahwa faktor nasib, kesuksessan, atau harapan mempunyai pengaruh yang besar
dalam kehidupannya Gibson, Ivancevich & Donnelly (1995:161) mengatakan
bahwasanya Locus of control sebagai
karakteristik kepribadian yang akan mendeskripsikan anggapan orang bahwa dengan
kendali kehidupan mereka bersumber dari internal diri mereka sediri. Orang yang
meyakini bahwa kehidupannya akan dikontrol oleh adanya faktor eksternal disebut
dengan externalizer.
Berdasar dari beberapa pengertian
yang dipaparkan diatas, maka bisa disimpulkan
defenisi Locus of control yakni
tingkatan sejauh mana sebuah keyakinan yang ada pada individu akan sumber
penyebab kejadian-kejadian yang bakal terjadi dalam kehidupannya, baik sifatnya
sebuah keberhasilan, sebuah prestasi maupun kegagalan dalam hidupnya mampu
dikontrol oleh perilakunya sendiri (faktor internal) atau semua perkara yang
kemungkinan terjadi dalam hidupnya baik sifat dalam bentuk prestasi, bentuk
kegagalan maupun keberhasilan terkendali oleh kekuatan lain dari luar, seperti
pengaruh kekuasaan, kesempatan, pengaruh keberuntungan dan nasib (faktor
eksternal).
Dimensi Locus of
control
Rotter (Patten, 2005) menyatakan
bahwa Locus of control terbagi menjadi dua, yaitu
internal dan eksternal. Locus of control
(lokus kendali) Internal dipersepsikan pada semua kejadian baik itu kejadian
positif maupun kejadian negatif, disebabkan oleh konsekuensi atas tindakan atau
perbuatan dari diri sendiri serta berada di bawah kendali diri, sedangkan Locus of control (lokus kendali)
eksternal bersumber dari kepercayaan bahwa setiap kejadian tidak ada
hubungannya secara langsung dengan tindakan, baik itu dari diri sendiri serta
dari luar kontrol dirinya.
Pendapat lainnya mengenai lokus kendali internal
dikemukakan oleh Julianto (2002) bahwa lokus kendali internal merupakan
keyakinan seseorang untuk dapat menentukan nasibnya sendiri, mereka tidak
peduli dengan lingkungannya, apakah lingkungan tersebut mendukung atau tidak
mendukung
Sedangkan Mantis
dan Roesleer (2010) memberikan pernyataan mengenai Locus of control secara internal sebagai
cara pandang seseorang perihal baik atau buruknya hasil yang diperoleh atas
tindakan yang dilakukan akan sesuai kemampuan diri dalam mengontrolnya atau
bersumber dari internal diri sendiri. Sedangkan Locus of control secara eksternal merupakan cara pandang seseorang
bahwa keberhasilan maupun kegagalan yang diperolehnya diakibatkan oleh faktor
diluar dirinya atau di luar kontrolnya misalnya faktor keberuntungan, adanya
kesempatan, adanya peluang, karena takdir dan sebagainya.
Lefcourt (1982) memberikan pernyataan
bahwa pribadi dengan Locus of control
secara internal akan meyakini bahwasanya setiap keberhasilan maupun kesuksesan
yang menghampiri hidupnya akan dapat mereka control. Sebaliknya, pribadi dengan
Locus of control secara eksternal
akan meyakini bahwa semua unsur keberhasilan ataupun kesuksesan dalam
kehidupannya akan berada di luar kontrol mereka. Maka Dengan demikian, titik
pandang serta tindakan yang akan dipilih oleh individu untuk menghadapi sebuah
kondisi yang memiliki kemiripan kemungkinan akan berbeda sesuai Locus of control individu tersebut.
Zimbardo (1984) beranggapan bahwa
keberhasilan yang mampu diwujudkan oleh individu karena hasil pekerjaanya
sendiri dinamakan Locus of control
internal, sedangkan Keberhasilan yang didapatkan karena adanya pengaruh dan
kekuatan dari luar dinamakan Locus of
control (lokus
kendali) eksternal. Lebih lanjut
dijelaskan bahwa Locus of control secara konsep kontinum
dimensional secara terpadu dari derajat eksternal menuju internal, bukanlah
sebuah tipologi
Dari beberapa
pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa Locus
of control secara internal bersumber dari Individu yang percaya bahwa
peristiwa, kejadian, dan takdir disebabkan karena kendali dirinya sendiri.
Sedangkan Locus of control secara
eksternal bersumber dari individu yang percaya bahwa peristiwa, kejadian, dan
takdir disebabkan karena kendali dari faktor di luar dirinya.
Karakteristik Locus
of control
Menurut Crider (Ghufron dan Risnawati, 2010: 23-24) terdapat
perbedaan karakteristik antara Locus of
control (lokus kendali) internal dan eksternal, sebagai berikut:
1. Locus of control
(lokus kendali) internal
a) Pekerja
keras
b) insiatif
yang tinggi
c) Selalu
berinisiatif menemukan pemecahan masalah
d) Berfikir efektif
e) memiliki
persepsi diri bahwa usaha mutlak harus dilakukan bila ingin berhasil
2. Locus of control
(lokus kendali) eksternal
- Inisiatif kurang
- Gampang menyerah, dan
menganggap faktor luar yang mengontrol
- Miskin informasi
- Beranggapan
bahwa hanya sedikit hubungan antara usaha dengan kesuksesan
- Mudah terpengaruh dan amat
tergantung pada petunjuk dari orang lain
Dari beberapa pendapat tersebut dapat
dipahami bahwa pada individu dengan Locus
of control (lokus kendali) internal akan memiliki faktor yaitu kemampuan
serta usaha yang lebih dominan. Bilamana individu tersebut mengalami kagagalan,
maka kesalahan akan dibebankan kepada dirinya sendiri karena merasa usaha yang
dilakukannya kurang. Sebaliknya bilamana berhasil, mereka bangga dengan hasil
usahanya. Individu
dengan Locus of control (lokus
kendali) internal akan memiliki keyakinan bahwasanya nasib serta
kejadian-kejadian dalam hidupnya berada dalam kendali kontrol dirinya sendiri.
Hal ini akan membawa pengaruh terhadap tindakan selanjutnya pada masa-masa yang
akan datang, yakni mereka yakin akan mencapai keberhasilan bilamana mereka
berusaha keras secara maksimal.
Sementara individu yang didominasi
atas Locus of control (lokus kendali)
external akan melihat keberhasilan serta kegagalan dari unsur kesukaran dan
nasib. Oleh sebab itu, bilamana mereka mendapatkan kegagalan, maka kecendrungan
dalam diri mereka untuk menyalahkan lingkungan sekitarnya sebagai faktor
penyebabnya. Sedangkan individu yang meyakini bahwa faktor lingkunganlah yang
mampu mengkontrol nasib atau kejadian-kejadian yang terjadi dalam kehidupannya. Hal tersebut pastinya
berpengaruh dalam tindakan mereka di masa datang. Mereka akan merasa tidak
mampu serta kurang beruntung sehingga mereka seolah-olah tidak mempunyai
harapan untuk memperbaiki kegagalan tersebut.
Indikator Locus
of control
Berdasarkan teori Crider (1983) maka
indikator yang digunakan adalah:
a) Memperoleh
keberhasilan merupakan hasil dari kerja keras serta tidak ada hubungannya dengan
keberuntungan.
b) Meningkatkan
kualitas diri merupakan hasil dari inisiatif yang terdapat dalam diri kita
sendiri.
c) Ketika
menghadapi masalah, hal yang dilakukan yaitu mencari solusi untuk memecahkan
masalah tersebut.
d) Selalu
berfikir secara efektif dalam melakukan pekerjaan Keberhasilan yang diperoleh
berbanding lurus dengan usaha yang telah dilakukan
Aspek Locus of
control
Locus
of control yang dikembangan oleh Rotter memiliki 4
konsep dasar yaitu:
1) Potensi
Perilaku (Behavior Potensial)
Pontensi perilaku ini mengacu pada probabilitas bahwa perilaku dalam keadaan
tertentu dapat terjadi pada situasi tertentu. Kemungkinan tersebut akan
ditentukan dengan adanya refrensi dalam penguatan atau serangkaian penguatan
yang dapat mengikuti perilaku tersebut.
2) Pengharapan
(expectancy) ekspektasi merupakan
kepercayaan dalam diri individu bahwasanya meraka berperilaku khusus dalam
situasi yang akan diikuti oleh adanya penguatan yang dapat diprediksikan.
Kepercayaan ini berdasarkan pada probabilitas/kemungkinan bahwa penguatan dapat
terjadi
3) Nilai
Pungutan (Reinforcement Value) ini
merupakan penjelasan dari tingkat pilihan pada penguatan (reinforcement)
sebagai subtitusi yang lain. Setiap individu akan menemukan penguat yang
nilainya berbeda sesuai dengan aktivitas yang berbeda pula. Pemilihan faktor
penguat bisa berasal dari pengetahuan yang dapat menghubungkan faktor penguat
masa lalu dengan kejadian saat ini. Berdasar dari hal tersebut, akan berkembang
ekspektasi untuk masa datang yang akan menghubungkan antara konsep pengharapan
(Expectancy) dengan nilai penguatan
4) Situasi
psikologi (Psychological Situasion) merupakan hal penting untuk menentukan
perilaku.
Rotter
meyakini bahwa secara kontinyu seseorang bukan hanya akan bereaksi pada
lingkungan internal ataupun eksternal secara parsial, namun bisa juga secara
simultan pada kedua lingkungan tersebut. Penggabungan tersebut dinamakan
situasi.
Phares (dalam Silalahi 2009:30-32)
menjelaskan aspek dari Locus of control
secara terperinci dalam 2 aspek, yaitu:
1. Aspek
Internal
a) Kemampuan
Individu
yang mempunyai kontrol internal akan percaya pada kemampuan yang dimilikinya.
Kesuksesan maupun kegagalan akan sangat dipengaruhi oleh faktor kemampuan
mereka.
b) Minat
Individu
dengan kontrol internal memiliki kemauan yang lebih besar akan perilaku,
kejadian maupun tindakan mereka.
c) Usaha.
Individu
dengan control internal yang dominan akan bersikap tidak mudah menyerah dan
akan terus berusaha secara maksimal untuk mengontrol perilakunya.
2. Aspek
Eksternal
a) Keberuntungan.
Individu dengan control eksternal akan beranggapan bahwa setiap orang memiliki
keberhasilan dan mereka akan sangat mempercayai faktor kemujuran tersebut.
b) Pengaruh
Orang luar. Individu dengan control eksternal yang lebih dominan akan sangat
mengharapkan adanya bantuan dari orang lain dan mereka menganggap bahwa dengan
kekuasaan lebih yang lebih besar akan memiliki pengaruh yang lebih darinya
Faktor yang berpengaruh dalam Locus of control
Beberapa hal yang berpengaruh
terhadap Locus of control seseorang
yaitu:
a. Faktor
keluarga. Menurut Hamedoglu dan Gulay, (2012) mengutip pendapat dari Kuzgun,
mengungkapkan bahwa lingkungan keluarga yang tempat seseorang tumbuh dan
berkembangan akan memberikan pengaruh. Didikan Orangtua terhadap anak, pada
dasarnya akan mewakili nilai-nilai maupun sikap dari kelas sosial mereka. Kelas sosial dalam hal
ini, tidak hanya tentang status ekonomi, namun juga akan memiliki arti yang
cukup luas, seperti tingkat pendidikan, pola kebiasaan, tingkat pendapatan
serta gaya hidup. Individu dengan kelas sosial ekonomi khusus akan menjadi
bagian pada sebuah sistem nilai dimana nilai tersebut mencakup gaya dalam
membesarkan anak, selanjutnya akan berfokus pada pembentukan karakter maupun
kepribadian diri.
b. Dalam
lingkungan yang otokratis di mana didalamya terdapat perilaku yang berasa di
bawah kontrol yang ketat, anak-anak akan tumbuh menjadi pemalu, suka menggantungkan
diri pada orang lain. Di lain sisi, anak-anak yang berkembang dalam lingkungan
yang sangat demokratis, akan mengembangkan rasa individualisme mereka menjadi
anak yang mandiri, dominan, dan memiliki keterampilan dalam interaksi sosial,
merasa percaya diri, serta memiliki rasa keingintahuan yang besar.
c. Faktor
motivasi. Menurut Karimi dan Alipour (2011) mengutip pendapat Forte,
mengungkapkan bahwa satisfaction dalam bekerja, pengakuan diri dan peningkatan
kualitas hidup (motivasi intrinsik), pekerjaan yang baik, promosi jabatan,
peningkatan gaji (motivasi ekstrinsik) akan menjadi faktor yang berpengaruh
dalam Locus of control dari
seseorang. Reward
dan punishment (motivasi ekstrinsik)
juga berpengaruh terhadap Locus of
control.
d. Faktor
pelatihan. Kegiatan pelatihan telah banyak membuahkan hasil dan terbukti
efektif dalam mengatur Locus of control
(lokus kendali) individu dimana perannya adalah meningkatkan kompetensi serta
keahlian para peserta pelatihan untuk mengatasi hal-hal yang berdampak buruk.
Pelatihan adalah sebuah pendekatan terapi untuk proses pengembalian kendali
yang terfokus pada output yang ingin didapatkan. Menurut Huang dan Ford (2011) mengutip pendapat Luzzo, Funk dan Strang,
pelatihan dipahami dapat menjadi drive dari Locus
of control (lokus kendali) internal menuju tahapan yang lebih lebih tinggi,
mampu meningkatkan prestasi dan pengembangan karir.
Menurut Monks (1982) Locus of control akan terbentuk,
bergantung pada :
1) Stimulus.
Jika seseorang mengalami kekurangan stimulus dari lingkungan sekitarnya, maka
dapat menyebabkan mereka mengalami yang namanya deprivasi persepsual atau
stimulus yang kurang memadai). Respon.
2) Adanya
respon ataupun reaksi pada kondisi yang tepat terhadap tingkah laku seseorang
dapat memberikan pengaruh yang penting terhadap rasa diri mereka.
Konsekuensi Locus
of control
Konsekuensi Locus of control Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh
Patten (2005:160) perihal impact Locus of
control terhadap satisfaction dan kinerja perusahaan, menemukan bahwa
seseorang yang dikuasai lokus kendali internal akan mampu merasakan kepuasan
kerja yang lebih dibandingkan dengan seseorang yang dikuasai lokus kendali
eksternal. Lokus kendali internal yang tinggi akan memperoleh hasil kerja yang
lebih baik dalam perusahaan, sehingga dengan hasil kerja tersebut seseorang
bisa mendapatkan reward (penghargaan)
dari pihak perusahaan dan individu tersebut akan merasakan kepuasan dengan apa
yang mereka dapatkan. Lokus kendali yang dikelola dengan baik oleh individu
akan mampu meningkatkan kinerja individu yang bersangkutan.
Individu yang sebelumnya berkinerja
sudah baik akan menjadi semakin baik, hal ini ditunjang dengan adanya
pengukuran kinerja individu karyawan yang semakin bagus turut mempengaruhi
pengukuran kinerja. Baron dan Greenberg (1990) menyatakan Locus of control memiliki peran dalam motivasi, dengan perbedaan Locus of control akan dapat memberikan
cerminan motivasi yang berbeda serta kinerja yang berbeda pula. Lokus kendali Internal
cenderung mencapai kesuksesan dalam karir dibandingkan lokus kendali eksternal,
mereka memiliki kecenderungan memiliki kinerja pada level yang lebih tinggi,
mendapatkan promosi jabatan yang lebih cepat, dan memiliki kekayaan yang lebih.
Selain itu, lokus kendali internal akan memiliki kepuasan kerja yang cenderung
lebih tinggi dalam pekerjaan mereka dan akan terlihat lebih mampu untuk menahan
stress dibanding dengan individu yang dikontrol lokus kendali eksternal
Sumber Rujukan
April, K.A., Dharani, B & Peters, K. 2012. Impact
of locus of control expectancy on level of well-being. Review of European Studies; 04 (2)
Baron dan Greenberg.1990. Behavior in
organizations,
3rd ed. Boston, MA: Allyn& Bacon (A Division of Simon & Schuster,
Inc.).
Brownell, Peter. 1981, ”Participation in Budgeting,
Locus of Control and Organizational Effectiveness”. The Accounting Review. Vol. LVI, No. 4. 844-860
Crider, A.B. 1983. Psychology. Scott, Foresman &
Company
Duffy, G.K., & Atwater, E. (2005). Psychology for Living : Adjustment , Growth,
Behavior Today. Pennyslvania State University: Prentice Hall.
Gibson, Ivancevich, Donnelly. 1995, Organisasi, alih bahasa Nunuk Adiarni,
edisi Kedelapan. Binarupa Aksara : Jakarta
Ghufron, M. Nur dan Rini
Risnawati. (2010). Teori-Teori Psikologi.
Ar-Ruzz Medi : Yogyakarta
Hamedoglu, M., Kantor, J., & Gulay, E. (2012). The
effect of locus of control and culture on leader preferences. International Online Journal of Educational
Sciences Vol.4 , 319-324.
Huang, J.L & Ford, K. J. 2011. Driving Locus Of
Control And Driving Behaviors : Including Change Trough Driver Training. Transportation Research Part F xxx
(2011) xxx-xxx
Irwandi, SA, Widagdo,
dan R.S Lesmana, 2002. Analisis
Pengaruh Atribut-atribut Kualitas Audit Terhadap Kepuasan Klien (Studi Empiris
pada Perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta). Simposium Nasional Akuntansi 5 Semarang. P.560-574
Karimi, R., & Alipour, F. (2011). Social support
and job stress: Moderation role of locus of control. Journal of Asian Scientific Research , 1 (6), 285-290
Kutanis, O., Mesci, M., & Ovdur, Z. 2011. The
effects of locus of control on learning performance: A case of academic
organization. Journal of Economic and
Social Studies , 1 (2), 11-36
Kreitner, Robert and Angelo Kinicki. 2005. Perilaku Organisasi
(Orgaizational Behavior). Salemba Empat : Jakarta
Lefcourt H.M. (1982), Locus of Control. London. Lawrence Erlbaum Associates.
Levenson, Hanna, (1981), Differentiating Among
Internalit, Powerful Others, and Chance, Journal
Research With The Locus of Control Construct Vol. 1, Academic Press
Monks, F. J. dkk. (1982). Psikologi Perkembangan: Pengantar dalam Berbagai Bagiannya. Gajah
Mada University Press : Yogyakarta.
Munir, Saima & Mehsoon Sajid. 2010. Examining
Locus of Control (LOC) as a Determinant of Organizational Commitment among
University Professors in Pakistan. Journal of
Business Studies Quarterly Vol. 1 (3), 78-93, ISSN 2152- 1034
Patten, M. Dennis. (2005), “An Analysis of The Impact
of Locus of Control on Internal Auditor Job Performance and Satisfaction”, Managerial Auditing Journal, Vol. 20 No.
9, pp. 1016-1029
Robbins,
SP dan Judge. 2007. Perilaku Organisasi, Salemba Empat : Jakarta
Silalahi,
Ulber, 2009. Metode
Penelitian Sosial. PT. Refika Aditama
: Bandung.
Zimbardo. (2000). Psychology
and Life. Scott, Foresman and Company : United
State of America
No comments:
Post a Comment