Sunday, September 22, 2019

Locus Of Control


LOCUS OF CONTROL

Pengertian
Konsep mengenai Locus of control (pusat kendali) sejak awal dipelopori oleh Rotter. Rotter merupakan seorang ahli dalam teori pembelajaran sosial. Konsep dasarnya di kaji dalam teori pembelajaran sosial (learning social). Dalam penjelasannya dikemukakan bahwa seseorang dapat mengembangkan harapan kemampuan yang dimilikinya untuk mengendalikan kejadian-kejadian dalam hidupnya. Menurut pendapatnya yang dikutip oleh Brownell (1981), bahwasanya Locus of control dapat didefinisikan sebagai tingkat dimana seseorang mau menerima tanggung jawab secara personal terhadap apa yang mungkin akan terbentuk pada dirinya.
Pendapat lainnya dikemukakan oleh Kreitner dan Kinicki (2005), yang mengartikan Locus of control sebagai gambaran dari variabel kepribadian (personility) yang diartikan sebagai keyakinan individu untuk mampu tidak seseorang mengontrol nasib dirinya (destiny) sendiri.
Sedangkan Robbins dan Judge (2007) mengartikan lokus kendali sebagai tingkatan dimana seorang individu yakin bahwa dirinya adalah penentu nasibnya sendiri. Locus of control (lokus kendali) adalah kendali individu atas pekerjaannya dan kepercayaannya akan keberhasilan dirinya. Locus of control sangat terkait dengan kepercayaan individu akan suatu peristiwa, suatu nasib dan keberuntungan maupun takdir yang timbul pada dirinya, baik karena faktor internal ataupun faktor eksternal.
Pendapat yang hampir sama dikemukakan oleh Munir dan Sajid (2010) dimana pendapatnya mengutip pendapat dari Spector mengemukakan pengertian Locus of control sebagai cerminan dari keinginan pribadi seseorang untuk meyakini bahwa dirinya akan mengendalikan perkara yang bakal terjadi dalam hidupnya atau kendali dari peristiwa yang terbentuk dalam hidupnya berasal dari luar dirinya (eksternal).
Sedangkan Kutanis, Mesci dan Ovdur (2011) mengutip pendapat dari Erdogan menyatakan bahwa lokus kendali mencakup gagasan bahwa individu sepanjang hidup mereka, menganalisis peristiwa dari hasil perilaku mereka atau mereka mempercayai bahwa setiap peristiwa tersebut adalah hasil dari kebetulan, nasib atau mungkin kekuatan dari luar kendali mereka.
April, Dharani & Peters (2012) mengutip pendapat Lee-Kelley menyatakan Locus of control merpakan gambaran dimensi dari dua sisi berlawanan. Dimensi mencerminkan kepercayaan seseorang bahwa yang bakal terjadi pada mereka kesemuanya akan berasal dalam kendali maupun dari luar kendali mereka. Oleh Irwandi (2002:83) menyatakan bahwa beberapa individu akan meyakini bahwa mereka akan mampu mengendalikan apa yang bakal terjadi pada diri mereka, sedangkan di lain pihak juga akan meyakini bahwa semua yang terjadi pada dirinya mampu dikendalikan dari kekuatan luar misalnya kemujuran dan peluang.
Duffy & Atwarer (2005) mengemukakan definisi Locus of control yaitu sebuah keyakinan pribadi dalam mengendalikan peristiwa yang akan terjadi baik itu sifanya bersumber dari diri sendiri maupun bersumber dari luar. Levenson (1981) mengartikan Locus of control sebagai keyakinan dari individu atas sumber penyebab akan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupannya. Seseorang bisa memiliki keyakinan jika memiliki kemampuan untuk mengatur kehidupannya, atau kemungkinan orang lainlah yang akan mengatur kehidupannya, bahkan dapat juga berkeyakinan bahwa faktor nasib, kesuksessan, atau harapan mempunyai pengaruh yang besar dalam kehidupannya Gibson, Ivancevich & Donnelly (1995:161) mengatakan bahwasanya Locus of control sebagai karakteristik kepribadian yang akan mendeskripsikan anggapan orang bahwa dengan kendali kehidupan mereka bersumber dari internal diri mereka sediri. Orang yang meyakini bahwa kehidupannya akan dikontrol oleh adanya faktor eksternal disebut dengan externalizer.
Berdasar dari beberapa pengertian yang dipaparkan diatas, maka bisa disimpulkan defenisi Locus of control yakni tingkatan sejauh mana sebuah keyakinan yang ada pada individu akan sumber penyebab kejadian-kejadian yang bakal terjadi dalam kehidupannya, baik sifatnya sebuah keberhasilan, sebuah prestasi maupun kegagalan dalam hidupnya mampu dikontrol oleh perilakunya sendiri (faktor internal) atau semua perkara yang kemungkinan terjadi dalam hidupnya baik sifat dalam bentuk prestasi, bentuk kegagalan maupun keberhasilan terkendali oleh kekuatan lain dari luar, seperti pengaruh kekuasaan, kesempatan, pengaruh keberuntungan dan nasib (faktor eksternal).

Dimensi Locus of control
Rotter (Patten, 2005) menyatakan bahwa Locus of control terbagi menjadi dua, yaitu internal dan eksternal. Locus of control (lokus kendali) Internal dipersepsikan pada semua kejadian baik itu kejadian positif maupun kejadian negatif, disebabkan oleh konsekuensi atas tindakan atau perbuatan dari diri sendiri serta berada di bawah kendali diri, sedangkan Locus of control (lokus kendali) eksternal bersumber dari kepercayaan bahwa setiap kejadian tidak ada hubungannya secara langsung dengan tindakan, baik itu dari diri sendiri serta dari luar kontrol dirinya.
Pendapat lainnya mengenai lokus kendali internal dikemukakan oleh Julianto (2002) bahwa lokus kendali internal merupakan keyakinan seseorang untuk dapat menentukan nasibnya sendiri, mereka tidak peduli dengan lingkungannya, apakah lingkungan tersebut mendukung atau tidak mendukung
Sedangkan Mantis dan Roesleer (2010) memberikan pernyataan mengenai Locus of control secara internal sebagai cara pandang seseorang perihal baik atau buruknya hasil yang diperoleh atas tindakan yang dilakukan akan sesuai kemampuan diri dalam mengontrolnya atau bersumber dari internal diri sendiri. Sedangkan Locus of control secara  eksternal merupakan cara pandang seseorang bahwa keberhasilan maupun kegagalan yang diperolehnya diakibatkan oleh faktor diluar dirinya atau di luar kontrolnya misalnya faktor keberuntungan, adanya kesempatan, adanya peluang, karena takdir dan sebagainya.
Lefcourt (1982) memberikan pernyataan bahwa pribadi dengan Locus of control secara internal akan meyakini bahwasanya setiap keberhasilan maupun kesuksesan yang menghampiri hidupnya akan dapat mereka control. Sebaliknya, pribadi dengan Locus of control secara eksternal akan meyakini bahwa semua unsur keberhasilan ataupun kesuksesan dalam kehidupannya akan berada di luar kontrol mereka. Maka Dengan demikian, titik pandang serta tindakan yang akan dipilih oleh individu untuk menghadapi sebuah kondisi yang memiliki kemiripan kemungkinan akan berbeda sesuai Locus of control individu tersebut.
Zimbardo (1984) beranggapan bahwa keberhasilan yang mampu diwujudkan oleh individu karena hasil pekerjaanya sendiri dinamakan Locus of control internal, sedangkan Keberhasilan yang didapatkan karena adanya pengaruh dan kekuatan dari luar dinamakan Locus of control (lokus kendali) eksternal. Lebih lanjut dijelaskan bahwa Locus of control secara konsep kontinum dimensional secara terpadu dari derajat eksternal menuju internal, bukanlah sebuah tipologi
Dari beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa Locus of control secara internal bersumber dari Individu yang percaya bahwa peristiwa, kejadian, dan takdir disebabkan karena kendali dirinya sendiri. Sedangkan Locus of control secara eksternal bersumber dari individu yang percaya bahwa peristiwa, kejadian, dan takdir disebabkan karena kendali dari faktor di luar dirinya.

Karakteristik Locus of control
Menurut Crider (Ghufron dan Risnawati, 2010: 23-24) terdapat perbedaan karakteristik antara Locus of control (lokus kendali) internal dan eksternal, sebagai berikut:
1.      Locus of control (lokus kendali) internal
a)      Pekerja keras
b)     insiatif yang tinggi
c)      Selalu berinisiatif menemukan pemecahan masalah
d)     Berfikir efektif
e)      memiliki persepsi diri bahwa usaha mutlak harus dilakukan bila ingin berhasil
2.      Locus of control (lokus kendali) eksternal
  1. Inisiatif kurang
  2. Gampang menyerah, dan menganggap faktor luar yang mengontrol
  3. Miskin informasi
  4. Beranggapan bahwa hanya sedikit hubungan antara usaha dengan kesuksesan
  5. Mudah terpengaruh dan amat tergantung pada petunjuk dari orang lain
Dari beberapa pendapat tersebut dapat dipahami bahwa pada individu dengan Locus of control (lokus kendali) internal akan memiliki faktor yaitu kemampuan serta usaha yang lebih dominan. Bilamana individu tersebut mengalami kagagalan, maka kesalahan akan dibebankan kepada dirinya sendiri karena merasa usaha yang dilakukannya kurang. Sebaliknya bilamana berhasil, mereka bangga dengan hasil usahanya. Individu dengan Locus of control (lokus kendali) internal akan memiliki keyakinan bahwasanya nasib serta kejadian-kejadian dalam hidupnya berada dalam kendali kontrol dirinya sendiri. Hal ini akan membawa pengaruh terhadap tindakan selanjutnya pada masa-masa yang akan datang, yakni mereka yakin akan mencapai keberhasilan bilamana mereka berusaha keras secara maksimal.
Sementara individu yang didominasi atas Locus of control (lokus kendali) external akan melihat keberhasilan serta kegagalan dari unsur kesukaran dan nasib. Oleh sebab itu, bilamana mereka mendapatkan kegagalan, maka kecendrungan dalam diri mereka untuk menyalahkan lingkungan sekitarnya sebagai faktor penyebabnya. Sedangkan individu yang meyakini bahwa faktor lingkunganlah yang mampu mengkontrol nasib atau kejadian-kejadian yang terjadi dalam kehidupannya. Hal tersebut pastinya berpengaruh dalam tindakan mereka di masa datang. Mereka akan merasa tidak mampu serta kurang beruntung sehingga mereka seolah-olah tidak mempunyai harapan untuk memperbaiki kegagalan tersebut.

Indikator Locus of control
Berdasarkan teori Crider (1983) maka indikator yang digunakan adalah:
a)      Memperoleh keberhasilan merupakan hasil dari kerja keras serta tidak ada hubungannya dengan keberuntungan.
b)     Meningkatkan kualitas diri merupakan hasil dari inisiatif yang terdapat dalam diri kita sendiri.
c)      Ketika menghadapi masalah, hal yang dilakukan yaitu mencari solusi untuk memecahkan masalah tersebut.
d)     Selalu berfikir secara efektif dalam melakukan pekerjaan Keberhasilan yang diperoleh berbanding lurus dengan usaha yang telah dilakukan

Aspek Locus of control
Locus of control yang dikembangan oleh Rotter memiliki 4 konsep dasar yaitu:
1)     Potensi Perilaku (Behavior Potensial) Pontensi perilaku ini mengacu pada probabilitas bahwa perilaku dalam keadaan tertentu dapat terjadi pada situasi tertentu. Kemungkinan tersebut akan ditentukan dengan adanya refrensi dalam penguatan atau serangkaian penguatan yang dapat mengikuti perilaku tersebut.
2)     Pengharapan (expectancy) ekspektasi merupakan kepercayaan dalam diri individu bahwasanya meraka berperilaku khusus dalam situasi yang akan diikuti oleh adanya penguatan yang dapat diprediksikan. Kepercayaan ini berdasarkan pada probabilitas/kemungkinan bahwa penguatan dapat terjadi
3)     Nilai Pungutan (Reinforcement Value) ini merupakan penjelasan dari tingkat pilihan pada penguatan (reinforcement) sebagai subtitusi yang lain. Setiap individu akan menemukan penguat yang nilainya berbeda sesuai dengan aktivitas yang berbeda pula. Pemilihan faktor penguat bisa berasal dari pengetahuan yang dapat menghubungkan faktor penguat masa lalu dengan kejadian saat ini. Berdasar dari hal tersebut, akan berkembang ekspektasi untuk masa datang yang akan menghubungkan antara konsep pengharapan (Expectancy) dengan nilai penguatan
4)     Situasi psikologi (Psychological Situasion) merupakan hal penting untuk menentukan perilaku.
Rotter meyakini bahwa secara kontinyu seseorang bukan hanya akan bereaksi pada lingkungan internal ataupun eksternal secara parsial, namun bisa juga secara simultan pada kedua lingkungan tersebut. Penggabungan tersebut dinamakan situasi.
Phares (dalam Silalahi 2009:30-32) menjelaskan aspek dari Locus of control secara terperinci dalam 2 aspek, yaitu:
1.      Aspek Internal
a)      Kemampuan
Individu yang mempunyai kontrol internal akan percaya pada kemampuan yang dimilikinya. Kesuksesan maupun kegagalan akan sangat dipengaruhi oleh faktor kemampuan mereka.
b)     Minat
Individu dengan kontrol internal memiliki kemauan yang lebih besar akan perilaku, kejadian maupun tindakan mereka.
c)      Usaha.
Individu dengan control internal yang dominan akan bersikap tidak mudah menyerah dan akan terus berusaha secara maksimal untuk mengontrol perilakunya.
2.      Aspek Eksternal
a)      Keberuntungan. Individu dengan control eksternal akan beranggapan bahwa setiap orang memiliki keberhasilan dan mereka akan sangat mempercayai faktor kemujuran tersebut.
b)     Pengaruh Orang luar. Individu dengan control eksternal yang lebih dominan akan sangat mengharapkan adanya bantuan dari orang lain dan mereka menganggap bahwa dengan kekuasaan lebih yang lebih besar akan memiliki pengaruh yang lebih darinya

Faktor yang berpengaruh dalam Locus of control
Beberapa hal yang berpengaruh terhadap Locus of control seseorang yaitu:
a.      Faktor keluarga. Menurut Hamedoglu dan Gulay, (2012) mengutip pendapat dari Kuzgun, mengungkapkan bahwa lingkungan keluarga yang tempat seseorang tumbuh dan berkembangan akan memberikan pengaruh. Didikan Orangtua terhadap anak, pada dasarnya akan mewakili nilai-nilai maupun sikap dari kelas sosial mereka. Kelas sosial dalam hal ini, tidak hanya tentang status ekonomi, namun juga akan memiliki arti yang cukup luas, seperti tingkat pendidikan, pola kebiasaan, tingkat pendapatan serta gaya hidup. Individu dengan kelas sosial ekonomi khusus akan menjadi bagian pada sebuah sistem nilai dimana nilai tersebut mencakup gaya dalam membesarkan anak, selanjutnya akan berfokus pada pembentukan karakter maupun kepribadian diri.
b.      Dalam lingkungan yang otokratis di mana didalamya terdapat perilaku yang berasa di bawah kontrol yang ketat, anak-anak akan tumbuh menjadi pemalu, suka menggantungkan diri pada orang lain. Di lain sisi, anak-anak yang berkembang dalam lingkungan yang sangat demokratis, akan mengembangkan rasa individualisme mereka menjadi anak yang mandiri, dominan, dan memiliki keterampilan dalam interaksi sosial, merasa percaya diri, serta memiliki rasa keingintahuan yang besar.
c.       Faktor motivasi. Menurut Karimi dan Alipour (2011) mengutip pendapat Forte, mengungkapkan bahwa satisfaction dalam bekerja, pengakuan diri dan peningkatan kualitas hidup (motivasi intrinsik), pekerjaan yang baik, promosi jabatan, peningkatan gaji (motivasi ekstrinsik) akan menjadi faktor yang berpengaruh dalam Locus of control dari seseorang. Reward dan punishment (motivasi ekstrinsik) juga berpengaruh terhadap Locus of control.
d.      Faktor pelatihan. Kegiatan pelatihan telah banyak membuahkan hasil dan terbukti efektif dalam mengatur Locus of control (lokus kendali) individu dimana perannya adalah meningkatkan kompetensi serta keahlian para peserta pelatihan untuk mengatasi hal-hal yang berdampak buruk. Pelatihan adalah sebuah pendekatan terapi untuk proses pengembalian kendali yang terfokus pada output yang ingin didapatkan. Menurut Huang dan Ford (2011) mengutip pendapat Luzzo, Funk dan Strang, pelatihan dipahami dapat menjadi drive dari Locus of control (lokus kendali) internal menuju tahapan yang lebih lebih tinggi, mampu meningkatkan prestasi dan pengembangan karir.
Menurut Monks (1982) Locus of control akan terbentuk, bergantung pada :
1)     Stimulus. Jika seseorang mengalami kekurangan stimulus dari lingkungan sekitarnya, maka dapat menyebabkan mereka mengalami yang namanya deprivasi persepsual atau stimulus yang kurang memadai). Respon.
2)     Adanya respon ataupun reaksi pada kondisi yang tepat terhadap tingkah laku seseorang dapat memberikan pengaruh yang penting terhadap rasa diri mereka.


Konsekuensi Locus of control
Konsekuensi Locus of control Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Patten (2005:160) perihal impact Locus of control terhadap satisfaction dan kinerja perusahaan, menemukan bahwa seseorang yang dikuasai lokus kendali internal akan mampu merasakan kepuasan kerja yang lebih dibandingkan dengan seseorang yang dikuasai lokus kendali eksternal. Lokus kendali internal yang tinggi akan memperoleh hasil kerja yang lebih baik dalam perusahaan, sehingga dengan hasil kerja tersebut seseorang bisa mendapatkan reward (penghargaan) dari pihak perusahaan dan individu tersebut akan merasakan kepuasan dengan apa yang mereka dapatkan. Lokus kendali yang dikelola dengan baik oleh individu akan mampu meningkatkan kinerja individu yang bersangkutan.
Individu yang sebelumnya berkinerja sudah baik akan menjadi semakin baik, hal ini ditunjang dengan adanya pengukuran kinerja individu karyawan yang semakin bagus turut mempengaruhi pengukuran kinerja. Baron dan Greenberg (1990) menyatakan Locus of control memiliki peran dalam motivasi, dengan perbedaan Locus of control akan dapat memberikan cerminan motivasi yang berbeda serta kinerja yang berbeda pula. Lokus kendali Internal cenderung mencapai kesuksesan dalam karir dibandingkan lokus kendali eksternal, mereka memiliki kecenderungan memiliki kinerja pada level yang lebih tinggi, mendapatkan promosi jabatan yang lebih cepat, dan memiliki kekayaan yang lebih. Selain itu, lokus kendali internal akan memiliki kepuasan kerja yang cenderung lebih tinggi dalam pekerjaan mereka dan akan terlihat lebih mampu untuk menahan stress dibanding dengan individu yang dikontrol lokus kendali eksternal


Sumber Rujukan
April, K.A., Dharani, B & Peters, K. 2012. Impact of locus of control expectancy on level of well-being. Review of European Studies; 04 (2)
Baron dan Greenberg.1990. Behavior in organizations, 3rd ed. Boston, MA: Allyn& Bacon (A Division of Simon & Schuster, Inc.).
Brownell, Peter. 1981, ”Participation in Budgeting, Locus of Control and Organizational Effectiveness”. The Accounting Review. Vol. LVI, No. 4. 844-860
Crider, A.B. 1983. Psychology. Scott, Foresman & Company
Duffy, G.K., & Atwater, E. (2005). Psychology for Living : Adjustment , Growth, Behavior Today. Pennyslvania State University: Prentice Hall.
Gibson, Ivancevich, Donnelly. 1995, Organisasi, alih bahasa Nunuk Adiarni, edisi Kedelapan. Binarupa Aksara : Jakarta
Ghufron, M. Nur dan Rini Risnawati. (2010). Teori-Teori Psikologi. Ar-Ruzz Medi : Yogyakarta
Hamedoglu, M., Kantor, J., & Gulay, E. (2012). The effect of locus of control and culture on leader preferences. International Online Journal of Educational Sciences Vol.4 , 319-324.
Huang, J.L & Ford, K. J. 2011. Driving Locus Of Control And Driving Behaviors : Including Change Trough Driver Training. Transportation Research Part F xxx (2011) xxx-xxx
Irwandi, SA, Widagdo, dan R.S Lesmana, 2002. Analisis Pengaruh Atribut-atribut Kualitas Audit Terhadap Kepuasan Klien (Studi Empiris pada Perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta). Simposium Nasional Akuntansi 5 Semarang. P.560-574
Karimi, R., & Alipour, F. (2011). Social support and job stress: Moderation role of locus of control. Journal of Asian Scientific Research , 1 (6), 285-290
Kutanis, O., Mesci, M., & Ovdur, Z. 2011. The effects of locus of control on learning performance: A case of academic organization. Journal of Economic and Social Studies , 1 (2), 11-36
Kreitner, Robert and Angelo Kinicki. 2005. Perilaku Organisasi (Orgaizational Behavior). Salemba Empat : Jakarta
Lefcourt H.M. (1982), Locus of Control. London. Lawrence Erlbaum Associates.
Levenson, Hanna, (1981), Differentiating Among Internalit, Powerful Others, and Chance, Journal Research With The Locus of Control Construct Vol. 1, Academic Press
Monks, F. J. dkk. (1982). Psikologi Perkembangan: Pengantar dalam Berbagai Bagiannya. Gajah Mada University Press : Yogyakarta.
Munir, Saima & Mehsoon Sajid. 2010. Examining Locus of Control (LOC) as a Determinant of Organizational Commitment among University Professors in Pakistan.  Journal of Business Studies Quarterly Vol. 1 (3), 78-93, ISSN 2152- 1034
Patten, M. Dennis. (2005), “An Analysis of The Impact of Locus of Control on Internal Auditor Job Performance and Satisfaction”, Managerial Auditing Journal, Vol. 20 No. 9, pp. 1016-1029
Robbins, SP dan Judge. 2007. Perilaku Organisasi, Salemba Empat : Jakarta
Silalahi, Ulber,  2009. Metode Penelitian Sosial. PT. Refika Aditama : Bandung.
Zimbardo. (2000). Psychology and Life. Scott, Foresman and Company : United State of America


No comments:

Post a Comment